Yang bikin tambah serem, aku harus lewat bulak sawah dan hutan rimbun sendirian. Jalanannya sepi, nggak ada lampu jalan, cuma ditemani suara jangkrik, kodok, dan... kegelapan. Jaman itu belum ada listrik, jadi penerangan malam cuma andalan lampu petromak atau senthir yang kadang malah lebih serem dari gelapnya sendiri.
Nah, suatu sore, pas aku pulang sekolah menjelang magrib, aku pulang sendirian melewati bulak sawah yang luas ketika itu suasananya udah gelap mencekam dan sunyi kayak di film horor. Aku jalan pelan, sambil mikir PR belum kelar. Tiba-tiba… dari kejauhan, aku lihat ada api kecil nyala di pinggir bulak sawah. Awalnya aku mikir, “Wah, ada yang bakar sampah nih,” tapi anehnya… kok nggak ada asap? Terus, api itu juga nggak ada barang yang dibakar di bawahnya. Cuma... api kecil yang melayang diatas tanah. Sendirian.. Kayak jomblo nyasar.
Karena aku anaknya terlalu penasaran dan mungkin sedikit kurang perhitungan, aku dekati tuh api. Eh lha kok, tau-tau dia beranak jadi dua. Terus tiga. Empat. Lima. Sampai banyak! Dan... MEREKA MENGELILINGIKU. Bukan mau nyanyi "Kumbaya", tapi aura mereka... horor abis! Di situlah aku sadar ini bukan api biasa. Ini mah makhluk halus! Mereka makin mendekat dan jelas banget mau nyakitin aku. Reaksi spontan? Jelas: AKU LARI SEKENCANG-KENCANGNYA untuk menjauhi kobaran api yang mulai mengejarku dengan sangat cepat itu.
"Ngopo nok, kowe kok mlayu-mlayu?"
(Secara halus artinya: “Nak, kamu kenapa lari-lari (kayak mau ikut lomba tapi lupa daftar?”)
Aku nggak jawab. Nafasku masih kayak habis naik tangga 20 lantai. Tapi begitu aku nengok ke arah sawah... api-apinya udah hilang. Lenyaaap.
Alhamdulillah. Allah masih selamatkan aku malam itu.
Akhirnya aku lanjut pulang dan cerita ke ayahku. Setelah aku ceritain semuanya, beliau bilang, “Oh, itu namanya Banaspati. Makhluk halus yang bentuknya api dan bisa nyerang orang.”

Ceritanya bagus dan serem
BalasHapus