Tulisan ini berangkat dari berbagai cerita dan pengamatan tentang hubungan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau terasa dekat dengan pengalamanmu, mungkin karena banyak orang pernah berada di situasi yang serupa.
| nidediary.blogspot.com |
Kalau ngomong jujur, banyak orang sebenarnya sudah tahu dari awal kalau hubungannya nggak beres. Salah satu tanda paling gampang dilihat itu sebenarnya adalah ketika dia sering hilang tanpa kabar. Hari ini bisa chat panjang, besok tiba-tiba diam saja, lalu muncul lagi seperti tidak ada apa-apa. Tapi ya itu… hati kadang lebih kreatif daripada logika. Kita masih cari alasan, masih kasih kesempatan, masih bilang “mungkin dia lagi sibuk” atau “ya mungkin dia capek”. Tapi kalau kejadian ini terus berulang, itu bukan lagi soal sibuk. Itu sudah jadi pola.
- Tidak benar-benar hadir : Biasanya, orang yang seperti ini memang tidak benar-benar hadir dalam hubungan. Dia ada, tapi hanya saat dia mau. Selebihnya kamu seperti nunggu sesuatu yang tidak pasti, kayak sinyal WiFi di daerah pegunungan kadang ada, kadang hilang, tapi lebih sering bikin emosi.
- Tidak pernah mau membahas masa depan : Setiap kali kamu coba arahkan obrolan ke “kita ini sebenarnya mau ke mana?”, jawabannya selalu kabur. Bisa “jalanin aja dulu”, atau “nanti juga tahu sendiri”, atau versi paling aman : diam dan ganti topik. Masalahnya, hubungan tanpa arah itu capek sendiri. Dan lama-lama kamu sadar, kamu yang mikir sendiri. Kamu yang ngebayangin sendiri. Dia? nggak pernah benar-benar masuk ke arah itu. Hubungan jadi terasa kayak kamu bangun sesuatu sendirian, tapi nunggu orang lain yang nggak jelas mau ikut atau nggak.
- Komitmen yang selalu dihindari : Bukan berarti semua orang harus langsung serius dari awal, tapi kalau setiap kali topik kejelasan muncul dia selalu menghindar atau justru jadi DEFENSIF, itu patut dipertanyakan. Orang yang memang mau serius biasanya tidak alergi dengan kejelasan. Walaupun pelan, biasanya tetap ada usaha untuk memberi kepastian, sampai kamu sendiri bingung kalian ini apa… ya mungkin memang dia nggak mau terikat dari awal.
- Usaha dalam hubungan yang tidak seimbang : Hubungan itu bukan cuma soal ngobrol. Tapi soal usaha juga.. Kalau kamu yang selalu mulai chat, kamu yang selalu nyari solusi kalau ada masalah, kamu yang jaga komunikasi… sementara dia hanya muncul kalau lagi mood, dan tanpa sadar kamu bukan lagi sedang menjalani hubungan. Kamu lebih kayak lagi ngejar seseorang yang bahkan nggak berhenti di tempat yang sama.
Kamu mulai sadar kalau kamu lebih sering bertanya dalam hati daripada benar-benar mendapat jawaban. Di titik ini, banyak orang sudah lelah, tapi juga susah buat pergi. Soalnya, di tengah semua ketidakjelasan itu masih ada perhatian kecil yang bikin bertahan. Kadang dia datang dengan manis, ngobrol seperti biasa, bikin kamu merasa, “oh, ternyata masih ada harapan.” Tapi nggak lama kemudian, dia menghilang lagi tanpa arah.
Dan di situlah masalahnya. Semuanya berubah jadi siklus. Dekat, jauh, dekat lagi, lalu hilang lagi. Dan kamu menjadi terbiasa dan menganggap itu hal yang wajar.
Padahal kalau dilihat dari luar, orang lain mungkin sudah lebih dulu melihat polanya. Tapi saat kita ada di dalamnya, semuanya terasa jauh lebih rumit. Karena yang kita pegang bukan cuma fakta, tapi juga perasaan.
Makanya banyak orang bertahan bukan karena hubungannya sehat, tapi karena sudah terlalu banyak memberi. Waktu, perhatian, pikiran, bahkan harapan. Rasanya sayang kalau semua itu dilepas begitu saja.
Padahal, disitulah hubungan seperti ini pelan-pelan menguras energi. Bukan cuma bikin capek hati, tapi juga bikin kita kehilangan fokus ke diri sendiri. Tanpa sadar, kita lebih sibuk menunggu daripada menjalani hidup.
Kalau sudah sampai di titik ini, sebenarnya kamu nggak perlu lagi mencari tanda tambahan. Tanda-tandanya sudah ada dari awal, hanya saja kita sering menunda untuk mengakuinya.
Kadang kita juga bertanya sendiri, kenapa dia bisa seperti itu? Kenapa setelah sekian lama dia bisa menghilang tanpa penjelasan? Kenapa semuanya nggak diselesaikan dengan jujur, biar nggak ninggalin orang dalam tanda tanya? Kenapa nggak jadi GENTLEMAN dan mengakhiri semuanya dengan baik?

