Hanya Setumpuk Debu
Berkeliaran Terbang Meninggalkan Jejak-Jejak Tak Kasat Mata.
Hanya Hempasan Angin Yang
Menyapa Kesunyian Dengan Bisu Yang Tak Pernah Selesai
Hanya Seberkas Sinar Yang Tak Biasa, Menyusup Kedalam Gelap Disudut-sudut Hati Yang Lama Terkunci, Memancarkan Warna Yang Rasanya Mungkin Dari Surga
Namun Semua Hanya Datang Dan Pergi, Secepat Bayangan Diujung Senja
Meninggalkan Jejak Kenangan Yang Tak Pernah Cukup Kuat Untuk Menghapusnya.
By : Nide
Puisi di RUANG SUNYI ini :
Tentang hati yang pernah ngerasa disapa sama harapan, sama keindahan, sama sesuatu yang bikin hati yang tadinya gelap jadi sedikit terang. Tapi semua itu cuma sebentar. Datang, nyentuh sedikit, lalu pergi lagi. Nggak tinggal. Nggak menetap. Cuma numpang lewat, ninggalin jejak yang malah bikin hati makin berat.
Jadi isinya tuh tentang rasa kehilangan, tentang sesuatu yang udah bikin hati sempat bergetar tapi ternyata nggak pernah benar-benar jadi milik. Rasanya kayak ngeliat cahaya sebentar di lorong gelap, lalu semuanya kembali sepi lagi. Dan yang tersisa cuma kenangan yang nggak pernah benar-benar bisa hilang.
Moralnya?
Kadang dalam hidup, hal-hal yang paling nyentuh hati justru bukan yang bertahan lama, tapi yang datang sebentar lalu pergi tapi ninggalin bekas yang dalam. Kita nggak selalu bisa punya semua hal yang bikin kita merasa “hidup”, tapi dari situ kita belajar: bahwa gak semua yang indah harus dimiliki.
Kadang hidup cuma nyuruh kita ngerasa, bukan punya. Dan itu cukup buat bikin kita ngerti tentang kehilangan, harapan, dan cara kuat pelan-pelan.
Kalau kamu lagi ngerasa kayak yang ditulis di puisi itu.... sepi, pernah disapa sesuatu yang indah lalu ditinggal itu wajar. Semua orang pasti pernah. Tapi itu juga yang bikin kita tumbuh, walau pelan.